Tuesday, September 27, 2011

Rapuh dan Rentan

Kau tau serapuh apa aku? lebih rapuh dari kayu tua yang menyimpan rayap senyap. Kau tau serentan apa aku? Lebih rentan dari pesakitan yang ditulari penyakit paling menular. Kau tau rasaku tentang rapuh juga rentanku? Tak lagi berupa dan tangisan yang muncul ketika fajar tiba. Kau tau bagaimana akhir dari rasaku itu? Sinar mataku cerlang, penuh cahaya di retina...

Kusadari bahwa rapuh dan rentan adalah tanda bahwa aku manusia biasa. Manusia yang memanusiakan dirinya. Bukan  manusia dungu tapi angkuh yang bersembunyi dibalik ketegaran yang menipu. Bukan pula manusia sok tau yang merasa dirinya paling pintar dan paling suci padahal ia bebal juga bengal.

Orang-orang sok tau dan orng-orang sok suci, adalah dua jenis manusia yang paling ingin kutendang. Jika kau bertemu mereka, tempeleng saja....! 


Hanya nyanyian si burung gagak yang merasa dirinya manusia. Sejak kapankah ia pandai bernyanyi...!?. Jadi,  maaf  saja kalau nyanyiannya terdengar sumbang

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Warung Tekko Palembang, Restauran Keluarga Dengan Kearifan Lokal Sumatera Selatan

Siapa yang bisa menolak kelezatan semangkuk Sup Iga yang hangat, pedas dan rasa nampol lezatos ...? Tak ada. Saya, wah jangan ...