Si Fana di Dunia Nan Fana


Si Fana diturunkan ke bumi, mengembara mengisi dunia, dunia nan fana. Konon.... kitalah si Fana. Kalaulah kita tidak fana, semuanya indah dan abadi, tidak ada kelemahan, tidak ada kesalahan, tidak ada kekhilafan, tidak ada kekeliruan, tidak ada kebinasaan, apa jadinya....? Semuanya lurus-lurus saja, tidak ada pertentangan, tidak ada kekisruhan, tidak ada perjuangan tertatih-tatih karena persaingan antar kita si fana, apa jadinya....? Apakah itu yang kita inginkan...? Begitu banyak hal yang telah kita alami dengan kefanaan. Cengkeram kefanaan selalu menyentuh kita. Maka marilah kita si fana ini merenungkan sejenak tentang kefanaan kita.

Gambar dari :
kamaliyadi.web.ugm.ac.id

Comments

  1. Saya mau semua lebih sederhana... ah mau-nya si fana.

    ReplyDelete
  2. yah mari sama sama introspeksi...
    salam knal n hangat
    -joni-

    ReplyDelete
  3. moga semua fana kekal di surga :)

    ReplyDelete
  4. ya , kitalah sifana,.....
    menggenapi perjalanan yang tak pernah putus dari tiap jengkal yg merengkuh direrimba kita.

    ReplyDelete
  5. yang fana hanya di sunia, di akhirat kelak
    si fanna kekal abadi .

    ReplyDelete
  6. si fana nama lengkapnya Fana Althafunnisa ya???
    :)

    ReplyDelete
  7. wah, kitu udah tau fana, eh masih suka perang-perangan berebut makanan ya mba ...

    ReplyDelete
  8. Tetapi rupanya, si Fana lebih suka memuaskan 'nafsu sesaat' nya ketimbang patuh pada Penciptanya.

    ReplyDelete
  9. bener tu
    kita memang si fana yang hidup di fana
    jadi pusing dech
    hehehehhe

    ReplyDelete
  10. Sebuah renungan untuk semua. Blog juga fana. Blogger juga fana.

    ReplyDelete
  11. @all, terimakasih komentar (fana)nya. Semuanya mantap. Saya yang fana ini sedang ngupi pagi di pagi yang fana ini, hehe. Mari Lanjutkan hari fana kita. Dengan menyadarai kefanaan kita secara jujur (seperti yang saya baca pada komentar-komentar di atas), insyaallah hidup ini jadi lebih bermakna.

    ReplyDelete
  12. Aku yang fana ini numpang ngupi di pagi hari, semuanya fana tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah ke fanaan itu sendiri.

    Aku udah agak baikan mbak, udah bisa posting.

    ReplyDelete
  13. Tingkatan fana dalam hakikatnya {sesungguhnya } dalam Ilmu Tuhan atau ilmu Tauhid yaitu sudah menghilang dari nafsu kehambaan..dan yang ada dalam dirinya hanyalah Tuhan...

    ReplyDelete
  14. Tuhan menciptakan dunia dengan segala rencananya, termasuk kita si fana.
    Tulisan yang indah Mbak....

    ReplyDelete
  15. kalu di dunia ini tak ada perjuangan pasti yang ada hanyalah kemaksiatan di muka bumi.

    ReplyDelete
  16. Halo sobat, aku berkunjung meningkatkan silaturrahmi mempererat persatuan dan mengutuk teroris di bumi Indonesia dan mendukung gerakan blogwalking :)

    ReplyDelete
  17. Huumffh...sepertinya masih banyak diantara kita yang bahkan ingin mengingkari kefanaan itu....Semoga bukan saya ? Betulkah ? Entahlah...

    ReplyDelete
  18. "semuanya fana kecuali Tuhan Pencipta Fana"

    ReplyDelete
  19. si fanny sedang merenungkan kefanaannya. he he he....nice post.

    ReplyDelete
  20. tak ada yang abadiiiiii,, tak ada yang abadiiii *nyanyi kek gaya ariel peterpen...*

    ReplyDelete
  21. si fana baru saja mau berjuang bersaing dengan kefanaan....

    makasih komennya mbak, kopinya bikin mataku melek lagi, kapan2 aku kesini lagi, blog dengan tema renungan, membuat kita tersadar bahwa kita mesti banyak belajar

    ReplyDelete
  22. tapi si fana itu memiliki sejuta keistimewaan yang terkadang tidak ia sadari.......biarkan hal itu berjalan apa adanya dan biarkan tetap menjadi rahasia baginya,karena ada kalanya rahasia akan lebih indah bila tetap menjadi rahasia

    ReplyDelete
  23. semua fana..aq lom pernah coba yang fana2..heheh

    ReplyDelete
  24. si fana ini lagi ngunjungin mba elly juga sambil ngupi....

    semoga si fana lebih banyak mensyukuri apa yang telah diberi penciptanya sehingga tak sia2 ia diturunkan di muka bumi :)

    ReplyDelete
  25. Kita hidup dengan cara yang berbeda-beda dan penyelesaiannya pun berbeda pula..kola hidup ini sama seperti yang lainnya jadi dunia ini enggak berwarna
    NB:perbedaan bukan untuk persaingan tapi untuk saling melengkapi

    ReplyDelete
  26. maaf mba Elly baru mampir. ko lambat yah ke sini..??? :) duh jadi malu, selalu di duluin.

    Semoga saya bisa melewati kefanaan tersebut. Insya Allah...

    ReplyDelete
  27. Makasih sudah mengingatkan, mbak...
    Seandainya tiap orang sadar akan ke-fana-annya, niscaya kehidupan ini akan sangat damai dan nyaman buat kita tinggali.

    ReplyDelete
  28. kerana fana kita tidak boleh mencintai dunia terlalu sgt

    ReplyDelete
  29. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger meberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

    ReplyDelete
  30. Hidup ini mirip timbangan. Saat yg duniawi atau yg rohani lebih mendominasi kita, pasti akan ada ketidak-seimbangan dlm hidup kita

    ReplyDelete
  31. Sifana...hidup dalam alam yang sementara...menuntuk kepintaran dan kebaikan agar mampu menjadi bahagia dialam berikutnya...nice post mbak..maknanya sangat dalam..

    ReplyDelete
  32. si fana tetaplah fana di dunia ini. karena bumi memang tenpatnya orang fana.

    ReplyDelete
  33. @all, terimakasih komentar yang mantap ini. Kefanaan kita tidak bisa kita ingkari, hanya harus kita sadari dan pahami bahwa kefanaan kita tidak mengingkari hati nurani kita. Saya yang fana ini sedang bersiap makan malam, tentu pada malam yang fana juga, selamat malam semua.

    ReplyDelete
  34. fanaaaaa....
    hmmmmmm...
    ga ngerti mbak.
    mhauhaaa.
    :D

    bahasanya sulit dicerna anak SMA.
    :D

    ReplyDelete
  35. Setiap orang selalu Fana
    oleh karena itu saat kita masih diberi kesempatan
    kalo bisa jangan sampai berbuat sesuatu yang tidak baik

    ReplyDelete
  36. si fana ini cuma sabar menanti keabadian

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts