Search This Blog

Saturday, October 31, 2020

Melihat Kesombongan Kritikus dan Perjuangan Jatidiri Mantan Pesohor dalam "Birdman, The Unexpected Virtue of Ignorance"




Source: amazon.com

Bahwa kehidupan seorang manusia adalah perjuangan sepanjang hayat, semua kita tau. Termasuk para seniman, sastrawan, tukang asongan, pegawai kantoran, pegawai publik (ASN), para artis beken dan para pesohor lain. Adalah bullshit jika hidup datar saja, sukses melulu, bahagia sepanjang hayat, tanpa cibiran dan penolakan dst. Birdman, membawa saya melihat hal tersebut.

Beginilah pikiran-pikiran di kepala seusai melihat sebuah film. Sebuah film yang saya saksikan di Netflix kemarin dan saya tonton ulang pagi ini dari laptop butut saya. Judulnya, "Birdman  or The Unexpected Virtue of Ignorance".

Adegan Birdman


Inti cerita yang saya tangkap dari menyaksikan film itu adalah di bawah ini,

Film ini berkisah tentang mantan aktor hebat, Riggan Thomson (diperankan Michael Keaton), yang dalam fiml itu adalah pemeran film animasi "Birdman". Birdman yang sukses sampai dbuat 3 sekuel. Riggan  Thomson kini  sedang mencoba bangkit dan beralih profesi menjadi sutradara sekaligus pemain teater, semacam Broadway di New York. 

Sebuah usaha yang penuh perjuangan. Perjuangan sebab Riggan sendiri dibayang-bayangi sosok Birdman yang tak lepas dari dirinya. Birdman yang menghantui pikiran Rigan.

Pertunjukan berjudul "What We Talk About Love" juga penuh dinamikanya sendiri, mulai dari salah satu pemeran utama pria diganti karena tak disukai Riggan. Penggantinya walau aktingnya bagus sangat eksentrik dan bertingkah suka-suka, Mike Shiner. Diperankan apik oleh  Edward Norton.

Belum leagi pasang surut hubungan antara Riggan dengan mantan istrinya, anak perempuannya, Sam,  yang mantan pecandu, yang oleh Riggan dijadikannya asisten. Sam yang sesekali masih suka menghisap ganja, diperankan dengan apik oleh Emma Watson.

Hal penting adalah tentang ketidakpedulian sekaligus penolakan seorang kritikus teater bernama Tabitha Dickinson. Dickinson yang menganggap Riggan hanya pesohor payah yang mencoba peruntungan di teater.  Bagi Dickinson, teater itu sakral dan hanya boleh diisi oleh orang-orang bermutu yang sudah lulus uji dari dia.

Inilah latar kenapa judul film ini Birdman or The Unexpected Virtue Ignorance . Film yang dibuat pada Tahun 2014 di Amerika Serikat dan katanya memenangkan banyak penghargaan, cari sendiri ya.


Buat saya film ini keren. Keren karena berisi banyak dialog segar, jujur apa adanya tapi menggedor-gedor jiwa. Sesekali saya membiarkan diri saya keluar dari dialog rutin di kantor, di rumah dengan keluarga atau bahkan di WAG yang saya ikuti.  

"Popularitas adalah sepupu jalang dari gengsi...", kutipan tokoh Mike, entah mengutip siapa

"Setip menit orang brengsek lahir..." Mike mengutip pemikiran P.T Barnum saat menciptakan sirkus

"Kau tidak bisa membedakan antara cinta dan kekaguman..." ucapan mantan istri, Sylvia kepada Riggan

"Orang menjadi kritikus, saat dia tidak bisa menjadi artis. Seperti halnya orang menjadi informan saat dia tak bisa menjadi serdadu..." Ucapan Mike kepada Tabitha Dickinson, kritikus teater terkenal yang sekaligus temannya agar memberi kesempatan kepada Riggan. 

Tepat ketika Dickinson menilai buruk Riggan dengan berkata, 

"Dia Badut Hollywood yang memakai kostum burung..." 


Betapa berat Riggan menghadapi kritikus yang bahkan tak memberinya kesempatan, menonton prapertujukan tidak tapi menilainya banyak

"Apa yang terjadi pada kritikus sehingga kau membenci? tanya Riggan padanya
"Aku membenci semua yang kau wakili, merasa berhak, tak siap, tak berpengalaman, egois dan anak manja..." ujar Dickinson kepada Riggan

"Kau bukan aktor, tapi pesohor. Mari kita pahami itu.." kata Dickinson
"Kau tak bisa datang dan berpura-pura kau bisa menulis, menyutradarai dan berakting..."

"Untuk masuk ke teater, kau harus melewatiku dulu..."
"Aku akan membuat ulasan terburuk yang pernah ada", ancam Dickinson lagi
 
"Belum berpengalaman, itu label/cap. Kurang semarak, itu cap. Kurang menarik, itu juga cap...
"Kau ini pemalas, kau belum menontonnya... " kata Riggan saat ia menemui Dickinson

"Kau keliru menganggap kebisingan di kepalamu sebagai pengetahua sejati..." lanjut Riggan

Film ini hanya berlatar setingg ruang pemain, ruang ganti, lorong-lorong gedung teater, sebuah cafe, dan halaman serta jalanan Kota New York, yang digambarkan bagian belakang gedung teater. Musiknya pun simple, mayoritas hanya dentuman ringan drum tapi terasa pas (hanya ada sebuah lagu  yang saya lupa judulnya). Sederhana tapi kaya dan bernas. Bernas menyentil kita. 

Ya betapa banyak orang mengkritik karena tidak suka, bukan karena hal tersebut tidak bagus. Betapa banyak orang menolak, karena merasa berseberangan dan menganggap orang lain tidak mampu, egois, dan lain sebagainya padahal belum melihat pekerjaannya. Berapa banyak orang menolak hal yang hanya berdasarkan pengamatan dari jauh dan kecurigaan bahwa pesohor, orang lain, tidak menguasai substansi, tidak cerdas seperti yang diharapkan. Bahwa teater hanya untuk seniman teater dan artis hanya orang beken yang kemampuannya di bawah rata-rata tapi tertolong oleh dongkrak sosmed mereka.

Mungkin banyak orang memiliki prestasi hasil dongkrak-an sosmed mereka, tapi tidak semua. Setidaknya Riggan menggambarkan bahwa dia adalah salah satu pesohor yang berjuang dan bernas. Riggan yang tidak punya facebook, IG ataupun twitter. Riggan yang oleh Sam anaknya, dianggap tidak ada karena  Riggan  tidak punya akun sosmed sama sekali. Riggan bahkan membenci penulis blog, twitter dsb, haha.  

Film ini berakhir happy ending yang keren dan tidak lebay. Ditutup dengan pertunjukan teater yang sukses meski ada sedikit kecelakaan Riggan menggunakan Pistol asli pada pertunjukkannya. Hal yang tidak diharapkan sebelumnya, Dickinson sang kritikus akhirnya menonton pertunjukan tersebut dan membuat ulasan bagus yang tidak terduga. Ulasan keren berjudul The Unexpected Virtue of Ignorance" tentang pertunjukkan Rigan pada Kolom "Artis This Weekend".

"Thomson (Riggan Thomson) tanpa sadar melahirkan suatu bentuk seni baru surealisme super..." tulis Dickinson dalam ulasannya. Ya, walau scenenya tidak banyak, pemeran Tabitha Dickinson, Linsay Duncan apik juga. 

Begitulah film sederhana tapi menggedor jiwa dan bernas ini. Salut buat Sutradara  film ini, Alejandro Gonzales Inarritu, telah membuat film apik bagi saya. 

Film ini membuat saya bisa mengisi waktu menunggu dengan berkesan dan senyum kepuasan di sudut  jiwa saya. Tepat ketika saya menunggu 6 (enam) jam proses autolysis adonan rot saya. Proses saat protein glutenin di  terigu membentuk gluten.  

Dari balik wadah plastik saya mengadon adonan roti itu  kemarin, pikiran tentang film ini mengendap di kepala saya. Lalu usai ketika bau roti dari oven menyeruak, dan roti sobek saya jadi.


Selamat menonton bagi yang belum. Maafkan ulasan ini penuh bocoran. Salam.

2 comments:

  1. Yang bikin film ini jadi obrolan panjang dulu yakni soal one single long shotnya itu. Keren sih memang film ini walaupun secara keseluruhan aku udah agak lupa kisahnya kayak apa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya obrolannya menarik. Terimakasih sudah membaca Yan. Nah nonton lagi aja, diputar ulang dan sedang trend di netflix sekarang.

      Delete

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...