Search This Blog

Sunday, August 2, 2020

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu dewan juri pada agenda Lomba Baca Puisi Kompal dalam rangka Hari Puisi Nasional yang jatuh pada tanggal 26 Juli kemaren.  


Katanya juri juga wajib meramaikan. Baiklah, saya bacakan Pusi Chairil Anwar berjudul Sia-sia. Hiks, sudah lebih 30 tahun gak baca puisi.


Baca puisi itu memang harus punya penjiwaan, katanya. Sisanya, ya tergantung style dan selera masing-masing. Ada yang suka straight, lempeng, ada yang berkelok-kelok. Ada yang mendayu-dayu. Ada yang bak deklamasi seperti zaman saya SD. Bahkan ada yang membaca puisi seperti gaya ceramah mamah dedek, hehe. Semua sah saja. Hal terpenting bagaimana harmoninya dan ketika orang mendegar puisi itu dibacakan, ada sesuatu yang dia dapat. 

Jika saya suka gaya lempeng, karena saya memang suka sama yang lempeng-lempeng dan lurus, sebab suka sama yang minimalis. Wew.

Sebelum soal gaya membaca puisi dan penjiwaan, hal paling penting adalah bagaimana apresiasi dan interprestasi kita terhadap puisi yang akan kita bacakan. Kita bisa memiliki perjiwaan tertentu jika kita memiliki interpretasi tertentu, kata saya. 

Puisi Sia-sia ini menurut interprestasi saya adalah puisi tentang sebuah pertemuan sia-sia, mungkin juga cinta sia-sia. Dibuat oleh alm.Chairil Anwar pada Februari Tahun 1943, sekitar 6 tahun sebelum kematiannya. 

Sebagimana puisi Chaiirl, sedang sedihpun gaya ke"aku"annya kuat, juga satir. Masih interpestasi saya, puisi ini dibuat ketika beliau mmebayangkan kelak orang terkasih (kekasihnya) datang ke pemakamannya. 

Kali penghabisan itu kau datang' (menurut saya, datang ke pemakaman)

membawaku kembang berkarang (menurut saya, karangan bunga)

mawar merah dan melati putih (bunga taburan untuk pusara)

darah dan suci (simbol mawar merah dan melatih putih, bisa jadi maknanya adalah cinta mereka)

kau tebarkan depanku (bunga taburan tadi ditebarkan di pusara

Serta pandang yang memastikan: untukmu 
(sambil menabur bunga, si kekasih memandang kekasihnya dalam pusara)

Lalu kita sama termangu

saling bertanya: apakah ini ?

cinta ? kita berdua tak mengerti

Sehari kita bersama, tak hampir-menghampiri 

Ah, hatiku yang tak mau memberi

mampus kau dikoyak-koyak sepi

Satirnya Chairil, ketika sudah meranapun dia menyumpahi orang yang dikasihinya akan kesepian setelah dia tiada dan berkata "mampus kau, dikoyak-koyak sepi). Bisa jadi pula dia sedang menyumpahi dirinya sendiri. Entahlah.

Pengalaman tersendiri membaca puisi "Sia-sia" ini selain di youtube saya ini, saya tarok juga di IG saya, kau cari saja. 

Begitulah. Bacakan puisi untuk saya ya. Boleh puisi Chaiirl Anwar, Puisi Sapardi Djoko Damano atau puisi Ajip Rosidi. Pokoknya puisi ke-3 maestro itu. 

Lalu kirim ke pantia Kompal sampai tgl 7 Agustus 2020 pukul 23.59 WIB.  Pengumuman tentang lomba ada Kompasiana DISINI.  Ada juga di IG Kompal DISINI.

Jangan lupa ikutan ya. Salam.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...