Search This Blog

Thursday, February 27, 2020

Saya Locavore, Ayo Kamu Juga Dong

Mencari Bumbu Khas di Pasar Peunayong Banda Aceh

Suka makanan yang tergolong pangan lokal, itu saya. Suka makanan khas Palembang dan Sumsel secara umum, apalagi makanan dengan resep bari, itu saya juga. Suka makanan khas berbagai daerah di nusantara yang dibuat dari pangan (lokal) khas setempat, ah itu saya banget. Maka saya kira perlahan-lahan saya atau siapapun yang seperti itu saya mulai menjadi bagian dari Gerakan Locavore. Mau tau, lanjut baca ya.

Ya locavore sejak lama menjadi bagian dari gerakan mencintai pangan lokal yang dinilai cukup berhasil di Eropa dan Amerika. Ya, di tengah gempuran issue global warming maka gerakan Locavore menjadi bagian dari issue yang seksi disana.

Betapa tidak, ketika manusia mengkonsumsi pangan lokal di dekatnya maka sekian ribu energi dihemat. Sebab pangan lokal di dekat kita tidak membutuhkan banyak proses dan usaha yang menghabiskan banyak energi untuk sampai kepada kita dan kita konsumsi. Otomatis, energi untuk proses angkut, proses pengawetan dan lain sebagainya menjadi sangat kecil bahkan nyaris tidak ada. Ini membuat sumbangan ke pemanasan bumi (global warming) yang dikhawatirkan banyak pihak menjadi kecil.

Saya memang lebih cinta pangan lokal yang ada di dekat saya. Alasannya banyak, bisa dibaca DISINI. Selain 5 alasan yang saya urai disana juga karena pembelaan saya kepada para petani kita. Kapan lagi dan siapa lagi yang membela produk petani kita kalau bukan kita, ya kan.

Ketika produk petani kita disukai, kita konsumsi semoga menjadi tambahan signifikan kepada harga jual petani. Masa iya kita cuma sekadar omong doang soal membantu meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP) tanpa akrab dengan produk mereka apalagi cinta. 

Salah satu tokoh Gerakan Locavore Indonesia, Tejo Wahyu Jatmiko mengatakan pentingnya strategi tepat dalam mengkampanyekan Gerakan Mencintai Pangan Lokal. Strategi tepat, lebih dari sekadar kepalan tangan. Saya setuju dengan ini. Pada beberapa sisi, gerakan apapun memang harus dilakukan dengan masif, sederhana dan luwes. Termasuk Kampanye Locavore ini.

Gambar dari SINI

Apa itu locavore? Balytra.com mengatakan Locavore adalah sebuah cara sederhana dan mikro mengurangi pemanasan global dengan mencintai, membeli, dan mengkonsumsi Pangan Lokal di sekitar kita. Jika Omnivora, herbivora dan carnivora adalah penggolongan mahluk berdasarkan jenis makanan yang disantapnya, ada juga Locavore. Manusia pemakan Makanan lokal. 

Banyak cara menjadi Locavore. Secara umum, ada tiga cara menjadi Locavore
  1. Belanja di Pasar Tradisional dan belilah produk petani kita disana
  2. Jika harus belanja di mall dan supermarket, pilihlah produk lokal kita. Entah sayuran atau buah.
  3. Konsumsi Pangan lokal kita. Di tengah gempuran makanan fastfood dan makanan luar yang sedang trendy, pilihlah menu asli nusantara.
Saya cinta pangan lokal, saya suka menu asli nusantara. Apalagi menu khas Palembang dan Sumsel, he, jangan tanya. Jika saya kebetulan sedang bertugas ke kota lain, seusai urusan pekerjaan saya biasanya wisata kuliner menu khas setempat. Bahkan saya bela-belain ke pasar tradisionalnya sekadar mencari bumbu khas disana. 

Makan burasa dan Coto Makasar saat bertugas di Makasar. Makan Bebalungan di Lombok. Mampir ke Pasar Peunayong di Aceh mencari bumbu rempah Aceh yang sedap dan terkenal itu. Mencoba Ayam Tangkap di Aceh, sedap.  Makan pempek Palembang dan makanan lain khas Palembang, apalagi. 
Makan Ayam Tangkap di Banda Aceh

Masak hasil belanja di pasar tradisional, sering dong. Selain cinta produk lokal petani kita juga karena rasa tak bisa bohong. Memang enak sih.

Hasil masakan dari berkutat belanja di Pasar Tradisional

Saya Locavore meski kecil-kecilan. Kamu bagaimana ? Ayo menjadi Locavore juga. 




 

6 comments:

  1. alhamdulillah.... enak banget bu sepertnya, kumpul sm kluarga juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, kalau sedang agak penuh emang enaknya ngopi aja dulu

      Delete
  2. Aku baru tahu ada istilah Locavore ini. Dan, sebetulnya selama ini sudah menerapkan. Aku jarang banget beli-beli makanan luar/cepat saji dsb. Sukanya makanan tradisional yang dijual abang-abang pinggir jalan. Enak, murah walau sudahnya ngerasa penuh dosa buahaha *karena makanan gak sehat.

    Tapi sesekali bolehlah. Sisanya ya makan makanan sehat yang juga dijual oleh penduduk lokal. Bukan berasal dari produk impor dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget Yan. Memang banyak yang sudah menjalankan gerakan Locavore ini. Semoga semakin banyak biar produk lokal kita makin membaik nilainya, juga semoga mengurangi kontribusi ke dampak negatif pemanasan global. Lebih sehat pula kan. Salam.

      Delete
  3. Sejak jadi vegetarian, saya hampir selalu beli makanan fresh dari ibu-ibu sayur di sekitaran rumah. Sampai akhirnya hapal kapan sayur baru datang dan bisa pesan tempe yg akan matang besok hari.

    Saya ingat pas tinggal sebulan di Pagar Al buat KKN, gak pernah sekalipun jajan yg fastfood chain karena kagak ada juga haha. Setiap hari makan makanan fresh dari pempek, pindang, sayur, kopi, semuanya fresh di beli pagi-pagi dan habis dimasak sampai malam. Seru banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan ini. Wuih pernah tinggal di Pagaralam ya ? Sayuran seger banget disana. Salam mba/mas.

      Delete

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...