Masihkah Kaum Saya Mencari Atap Di Atas Kepala...???

Sejak tadi mata saya tidak bisa akur dengan otak. Otak saya merencanakan tidur, tapi mata saya masih nyalang. Jadi buat kopi saja sekalian, biar tambah nyalang. Apa yang saya tulis ini sebetulnya adalah bahan perenungan saya yang terpenggal. Terpenggal oleh kesibukan, biasa. Ini bermula dari kemirisan saya dengan kondisi dimana kaum saya masih saja sibuk mencari atap di atas kepala. Sibuk mencari garansi dan asuransi untuk menjamin kebahagiaan hidupnya dari laki-laki. Dan akhirnya demi mendapatkan hal tersebut kaum saya sering menindas kaumnya sendiri. Ini sangat membuat saya merasa miris.

Perenungan ini agak membuat sakit kepala saat dua hari yang lalu, seorang teman di Facebook (seorang laki-laki) mengatakan bahwa dia lebih mengidolakan Kendedes ketimbang Kartini. Yah suka-suka dialah, setiap orang kan berhak menyatakan pendapat. Seperti halnya saya yang juga punya pendapat, ini sedang saya tulis. Mumpung besok libur.

Kendedes dan Kartini. Dua-duanya perempuan, ya kaum saya. Dua-duanya istimewa pada zamannya masing-masing. Menurut teman saya tadi, Kartini itu mau dipolygami oleh sang wedana, sedang Kendedes tidak. Kendedes bahkan berjasa membantu suami-suaminya mendirikan kerajaan. Karena itu menurut dia Kendedes lebih berhak disebut sebagai tokoh pelopor kaum wanita ketimbang Kartini. Hehehe, waktu itu saya cuma senyum-senyum kecut.

Seperti yang saya sebut di awal tadi, setiap orang berhak mengatakan pendapatnya, dengan apapun tendensi yang ia miliki. Saya, jelas saja tidak sependapat dengan teman tersebut. Setau saya, Kendedes itu malah bersekongkol dengan Ken Arok untuk membunuh suaminya waktu itu (ini perselingkuhan berdarah man). Jadi apa yang bisa ditauladani dari Kendedes. (Tapi hehe, sampai sekarang saya masih takjub tak percaya mendengar cerita konon betis Kendedes bersinar-sinar meruntuhkan iman setiap lelaki. Pasti dia sangat seksi di mata Ken Arok).

Kartini, ibu Kita kartini. Beliau berjasa memajukan kaumnya di desanya. Konon beliau sangat peduli dengan kemajuan bangsa ini (dari buku Terbitlah Terangnya itu). Ya itu hebat, tapi saya agak miris juga dengan nasibnya yang menjadi istri kedua sang wedana. Tarokla ini kungkungan adat yang belum bisa beliau langgar, bahwa anak gadis harus manut dengan pilihan orangtua. Tetap saja bagi saya Kartini adalah salah satu kaum saya yang menindas kaumnya sendiri. Jujur dimata saya beliau tidak hebat-hebat betul, cuma kumpeni saja yang menggembar-gemborkan jasanya. Perempuan di kampung saya sudah lama majunya.

Yah Kendedes dan Kartini, dua-duanya masih kaum saya yang mencari atap di atas kepala. Perempuan yang mencari perlindungan dari laki-laki untuk menjamin hidupnya. Itu tidak salah, tapi mungkin tidak lagi cocok di era globalisasi ini. Bila kaum saya masih memegang motto ini, maka bila ia akan kecewa. Sebab Rumah tangga di era sekarang ini tidak identik dengan menyerahkan tanggung jawab finansial penuh kepada laki-laki. Anda juga akan salah kalau menganggap suami selalu bisa menjadi a shoulder to cry on untuk anda seperti kata Tomy Page. Memiliki suami tidak berarti anda memiliki jaminan untuk bergantung pada mereka.

Atap di atas kepala ya akan ada di kepala kita masing-masing kalau kita bekerja keras mencarinya. Seyogyanya dicari sendiri, tidak harus dari laki-laki. Bahwa kita memiliki suami, memiliki Rumah tangga, itu sudah kodrat. Tapi memiliki suami atau jaminan tadi tidak harus dengan menindas kaum anda sendiri. Terus terang saya miris sekali bila melihat perempuan yang karirnya hebat, tapi mau jadi simpanan, jadi istri siri, atau sekedar jadi selingkuhan suami orang. Sama mirisnya kalau saya melihat kaum saya yang terseok-seok menggunakan kewanitannya mencari atap di atas kepala dengan menjadi istri kedua, ketiga atau keempat. Atau menjadi istri pertama setelah menyingkirkan istri pertama asli si lelaki. Saya kira saatnya kita semua (baik lelaki maupun perempuan) merubah mind set kita. Laki-laki dan perempuan adalah mitra sejajar yang seyogyanya saling mendukung dan saling menghargai. Perempuan seyogyanya tidak mencari atap di atas kepala kepada laki-laki. Laki-laki jangan menjebak perempuan dengan keinginan mereka yang ingin mencari atap di atas kepala tadi. Inilah kontemplasi saya malam ini. Mari kita renungkan bersama. Wah, kopi saya sudah habis rupanya.

Comments

  1. sdng ngetrend kali ya, coba aja liat di tv artis2 cantik berlomba2 menikah dgn pengusaha atau anak konglomerat...

    cari atap diatas kepala, cari aman ketika mrk udah gak laku lg...

    ReplyDelete
  2. Menurut saya, kaum wanita harus meraih pendidikan setinggi-tingginya, berusaha mandiri, dan jangan pernah berpikir seperti ini:
    "kalau dapat suami yang baik dan mampu, maka hidupku akan bahagia".

    Itu masih "kalau".

    ReplyDelete
  3. Elly hello
    Terima kasih telah mengunjungi
    very nice to me
    I don't know your language
    google translate
    haiyaa jauh dari Polandia

    ReplyDelete
  4. banyak teori mengenai cinta, kebahagian dan pengakuan. dan hebatnya mbak, setiap orang itu, laki-laki or perempuan memiliki teori sendiri yang relevan dengan keunikan masing-masing individu.

    Cuma pandangan saya (dan istri): cinta, kebahagiaan, kenyamanan, keutuhan keluarga, harus diperjuangkan!

    ReplyDelete
  5. @Tisti, yep itu slh satu yg membuat sy miris

    @Tikno, setuju, terkadang utk mjd mandiri tdk harus dgn pendidikan tinggi.

    @Donatella, haiya, itu sampeyan ngerti.

    @Baho, iya mmg unik, sesuai visi yg dimiliki msg2 individu. Sy sngt setuju dgn yg terakhir harus diperjuangkan bersama. Tp kemandirian jiwa kaum sy, harus diraih. Jgn menganggap laki-laki adalh atap di atas kepala. Istilah lain, jgn demi mencapai bahagia, meraih kemapanan hidup bergantung penuh kpd laki2, apalagi bila utk mencapai itu harus dgn menindas kaumnya sendiri.

    ReplyDelete
  6. sudah saatnya sekarang laki-laki dan wanita sejajar , dan JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA,NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR.JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN,NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA.

    ReplyDelete
  7. saya sangat setuju bu...dengan renungan diatas, cuman karena saya seorang lelaki yang belum ngejalaninnya agak sedikit kurang bisa memberi tanggapan lebih. Hanya saja saya bisa memaklumi, kenapa "perempuan" suka mencari atap diatas kepala? Bisa saja karena malas, merasa cepat lelah, merasa lebih lelah dr seorang lelaki, atau bahkan terlalu membanggakan kelebihannya...sehingga dapat dimanfaatkan, maaf mungkin yang ini hanya sebatas imajinasi kira-kira saya saja..

    ReplyDelete
  8. kalo saya lebih suka roro mendut..., itu bisa jadi alternatif. konon kabarnya beliau itu liberal tapi apa adanya.

    tapi yang gak suka itu sama roro jonggrang, lha saya pernah jatuh cinta sama yang tipe roro jonggrang.

    ReplyDelete
  9. @boyke, ya seyogyanya seperti yg anda harapkan. Bila anda sdh menjalani fase kebersamaan berRT, itu lebih indah bila dijalankan dengan semangat saling menghargai, saling memahami, tentu makin maknyus kl anda menemukan sosok mandiri yang tidak mencari atap di atas kepala. Saya doakan ya.

    @bodrox, hehe, ya setuju wl mengandalkan sisi kewanitaannya roro mendut lebih mandiri, lebih liberal. Roro jongrang, halah jelas kl anda bs kecewa dgn tipe ini, tuntutannya sungguh buesar booo, minta dibangunkan candi dalam semalam.....

    ReplyDelete
  10. Setuju 100%, mbak Elly. Wanita jangan hanya menggantungkan diri kepada lelaki atau org lain. Karena yg dpt membahagiakan kita adalah pilihan kita sendiri. Meski sudah bersuami, menurutku wanita tetap hrs memiliki karier dan pegangan hidup

    ReplyDelete
  11. Perempuan itu memang mitra bu.
    Kita sama - sama menjalankan tugas dan fungsinya masing 2.jadi memang harus bekerjasama dan saling menghargai satu sama lain.Terima kasih bu atas kunjungannya.

    ReplyDelete
  12. @Fanda, ya seharusnya begitu. Thanks.
    @kawan lama, tugas dan fungsi masing-masing ? ini yg barangkali tidak harus sekaku spt zaman dahulu. Hal yg tdk bs dilakukan oleh laki2 di RT cm 2, hamil dan melahirkan, diluar itu semuanya adalah pekerjaan RT bersama. Seperti halnya wanita kini jg melakukan hal dahulu hanya dikerjakan lelaki, yaitu mencari uang. Terimakasih sdh komentar.

    ReplyDelete
  13. oww...
    aku blom pernah baca tuh terbitlah ternagnya kartini....suatu saat? mungkin...
    yup.. ada benarnya.... kalo gag harus menggantungkan hidup pada laki²...

    ReplyDelete
  14. wah mbak..
    kalo dapet laki2 dengan atap di atas kepala
    ya syukur banget
    kita cewe emang butuh hal seperti itu

    tapi..
    itu gak mutlak, artinya sebelum semuanya terwujud
    kita adalah pribadi perempuan mandiri
    kaya mba Elly gitu lho
    he..he

    salam kenal ya mbak..

    ReplyDelete
  15. tak faham aku ayat korang...

    ReplyDelete
  16. @Rezky pratama, gak berat kl sambil ngupi,ngeteh
    @joo, ya baca n baca, slmt liburan
    @Itik-bali, kl ada yg ngasih ikhlas ya rezeki jgn ditolak, cm gak boleh maksa, atau psg target, dan ttp hrs mandiri. Salam kenal jg.
    @antaresa, ya sayang, thanks sdh komeng.
    @eri-com, sorry terlewat kemaren, I like your comments.

    ReplyDelete
  17. waduh kalo aku ga isa coment apa2 neh...karna setiap orang memiliki persefsi masing2 yang berbeda2pula....

    ReplyDelete
  18. kartini ama kendedes sama-sama wanita hebatt

    ReplyDelete
  19. mencari atap diatas kepala******,,,tidak cuma kaum hawa, kaum adam juga ada yang seperti itu, wajar karena setiap manusia punya rasa khawatir, dan setiap manusia punya cara sendiri untuk menghadapi kekhawatiran mereka....so it just my opinion....

    ReplyDelete
  20. Idola wanita...???
    Tetep Ibu saya...
    Wanita paling anggun, memeras keringat membantu suami agar anak2nya mampu melahap nasi....

    Wanita yang dengan keadilan tinggi, membagi 1 telor dadar untuk 4 anaknya yang telah bersiap berangkat ke sekolahan....

    Wanita yang sampai sekarang tidak mengharap balasan materi apapun, hanya satu pesan, tetep ingat sama Yang Kuasa...

    Tak peduli siapa pahlawan wanita di bumi ini..
    Tapi Ibu saya tetep seorang wanita yang luar biasa.....

    * Maafkan anakmu yang tak bisa membalas jasa ibu.....

    ReplyDelete
  21. @cahbodoh, yeah, absolutely you're right

    @anaknelayan, ya tentu saja

    @black_id, hm...ya, ini meyangkut apa yg sdh terpola. Mencari atap di atas kepala, cm istilah> Dulu skl sy dengar pd pementasan teater (lp teater apa, pokoknya milik Asrul Sani)istilah ini. Maksudnya perempuan mencari atap di atas kepala adalah perempuan yg menargetkan mencari kemapanan, kenyamanan dan kebahagiaan dr lelaki, psgn hidup/suami. Tentu ini tdk salah say. Masihkah pola kaum sy spt ini di era globalisasi dmn perempuan2 sdh bnyk yg mandiri dgn pola2 lm itu ? ini yg sy pertanyakan. Kl lelaki skrg bnyk jg yg mencari atap di atas kepala kpd perempuan, hehehe, keliatannya begitu ya. Terimakasih sdh komentar.

    @ijoPunkJUtee, seratus bwt anda. Ibu sy jg wanita hebat.

    ReplyDelete
  22. membahas tentang pahlawan wanita? pengorbanannya sangat luar biasa rela mengorbankan apa saja buat saya yang hanya hidup sederhana namun ingin mencapai tujuan yang sempurna itulah ibu...seperti ibu kartini yang rela mempertahankan hak-hak wanita hingga sekarang wanita juga bisa berkarir..

    ReplyDelete
  23. setelah baca2...jadi inget lagu: sejak dulu wanita dijajah pria, dijadikan perhiasan sangkar maduu....
    kok saya malah gak bisa mikir ya abis baca tulisan sista Elly...
    saya malah kepikiran, udah berapa kali dapet tulisan ttg ibu hari ini... jadi saya cuma bisa bilang, my mommy is my superhero... ga sanggup membalas jasa beliau.

    ReplyDelete
  24. @ducky honey, hehehe. Kartini itu hanya satu dari sekian pejuang kemajuan kaum perempuan di Indonesia say. Saya bikin tulisan ini tidak dalam rangka menyambut Hari Kartini, cuma dlm rangka menyambut euforia kt yg salah kaprah ttg sosok perempuan pejuang Indonesia. No offense. Iya setuju kartini di klg sy ya ibu sy.

    ReplyDelete
  25. datang lagi,,malam2 pengen minum kopi neh...

    ReplyDelete
  26. piye kabare mbak elly? maaf baru mampir, abis balik mudik,hehehe

    ReplyDelete
  27. @Black_id, thanks sdh mampir lg. Ngupi asyik.
    @JengSri, hm....yg abis day off, long vacation.

    ReplyDelete
  28. wah bener banget tuh.. salah kaprah banget nyambut kartini. yang ini saya sih setujah bangeet.

    ReplyDelete
  29. thanks kunjungannya mbak
    thanks jg comment nya...
    artikel qm bagus bgt...

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts