Search This Blog

Tuesday, August 14, 2018

Perempuan Yang Memetik Mawar, Simbol Pergulatan Batin Perempuan


Sudah lama saya menerima buku, berbentuk Novel berjudul “Perempuan Yang Memetik Mawar”. Sebab berteman di Facebook dengan penulisnya, yang saat itu sedang mempromosikan buku tersebut, ya saya pesan.  Maka, seperti dugaan, betul saja, buku itu lama menumpuk di rak buku, berteman dengan beberapa puluh buku lain yang belum sempat terbaca, ah. Saya menghabiskan waktu sehari, sehari sebelum hadir dia acara Bedah Novel tersebut untuk membaca buku tersebut.

Sebelum mulai menyampaikan review, saya ingin sedikit bercerita lagi. Perempuan Yang Memetik Mawar, novel yang ditulis oleh Dahlia Rasyad. Dia, penulis muda dari Palembang. Beberapa teman menyebutnya Sastrawan Perempuan dari Palembang, Sumatera Selatan mengingat terbatasnya jumlah penulis perempuan yang menghasilkan karya sastra, katanya.

Bagi saya pribadi pengkotakkan Sastrawan Perempuan, Laki-laki itu tidak begitu penting. Hal yang lebih penting adalah kualitas tulisan, Perempuan dan laki-laki punya kesempatan dan kans yang sama untuk menulis dan punya kesempatan yang sama untuk diakui jika memang tulisannya bagus. Jika sebuah karya bagus akan saya bilang bagus, tidak perduli dia laki-laki atau perempuan.

Tetapi, ketika Perempuan memang sangat langka menulis, dalam hal ini sastra, ya saya setuju saja ketika ada pelabelan “Sastrawan Perempuan”, untuk memberi motivasi perempuan agar semangat menulis karya sastra.  Dan memang benar Sastrawan Perempuan di Palembang, Sumatera Selatan itu sangat sedikit, bahkan cenderung langka.

Bedah Novel Perempuan yang Memetik Mawar dipandu oleh moderator dari Sriwijaya Post, Sdinah Trisman. Selanjutnya, dibedah oleh beberapa kampiun sastra nih. Ada Ibu Ken Zuraida (Teatrikal, istri alm.WS. Rendra). Ada Dian Susilastri (Akademisi, tepatnya Peneliti Bidang sastra, Lembaga Bahasa Sumatera Selatan). Ada Syamsul Fajri (penulis, sastrawan Sumatera Selatan).  Hal yang membuat saya terpana, para hadirin serius sekali memberi masukkan. Wah hebat nih rupanya acara bedah novel tersebut dihadiri juga oleh para sastrawan dan para penikmat satra dari Palembang. Ada seorang yang memberi tanggapan kepada Penulis agar penulis lebih menguatkan isu terkait Hilir Musi yang dikaitkan dengan Kerajaan Sriwijaya dan ada juga yang menyarankan penulis untuk belajar mengangkat isu perempuan dan kelokalan dari Arundhati Roy (penulis perempuan dari India), Gabriel Garcia Marquez (Pemenang Nobel dari Kolumbia).




Isu Perempuan dengan Diksi Lokal
Isu Perempuan itu memang seksi. Seksi dan dianggap isu universal sebab hampir sebagian besar Perempuan di negara dunia Ketiga mengalami ketidakadilan gender. Perempuan dengan segala permasalahan di dalamnya (ketidakadilan gender, polygami dll). Hal ini diangkat secara mendalam oleh Penulis, Dahlia Rasyad. Meminjam istilah Pak Syamsul Fajri, Dahlia mengangkat Hermeneutika Global dalam Semiotika lokal. Isu yang diangkat adalah isu global (Bu Dian Susilastri lebih suka menyebutnya isu Universal) yang dibalut dengan  diksi penceritaan yang khas lokal di Sumatera Selatan. Lokasi di Pelosok Sumatera Selatan, Desa Betih (Betina), menyelusuri Gunung Dempo. dll.

Narasi soal setting lokasi diceritakan dengan sangat kuat. Bagaimana suasana desa tepi hutan. Bagaimana suasana rumah panggung tua tak terurus dengan rayap dan telur rayap di beberapa sisi dinding dan lemari kayu. Perahu Kajang (Perahu khas Sumatera Selatan, dahulu digunakan oleh penjelajah tangguh sungai dan laut) yang melaju, kisah Antubanyu dan lain sebagainya.

Sauya yang sejak berumur 6 Tahun dititipkan ke neneknya, Nenek Mesiah. Bagaimana  Sauya kecil mengurus nenek dan rumah tak terurus di tepi hutan hingga menjadi rumah cukup bersih. Sauya kecil yang dibesarkan dengan hikayat dan cerita ajaib Nenek Mesiah, sang ahli hikayat dan sejarah. Sauya kecil yang ibunya mengalami ketidakadilan gender, lalu dipoplygami. Sauya kecil yang merasakan bagaimana derita Nenek Mesiah akibat dipolygami oleh sang kakek. Sauya yang setelah dewasa juga mengalami polygami dan akhirnya menikah beberapa kali dan melanglang buana hingga ke London.

Sauya, perempuan yang mendapat karma sebab telah memetik Mawar Hitam dari habitat aslinya di hutan nun di kaki Gunung Dempo padahal sang Bunga terlarang untuk dipetik. Mawar hitam yang hitamnya tak lagi seperti semula, hitamnya memudar. Sauya yang diakhir cerita mencekik bayi laki-lakinya yang menurut para pembedah adalah simbol penolakan kepada dominansi dan ketidakadilan laki-laki, dan pola partiarkhi yang mengakar kuat di Sumatera Selatan.

Dahlia Rasyad dan Esistensi Kepenulisan
Meski novel ini tak mampu saya lahap dengan penuh gairah macam buku Ayu Utami atau Marianne Katoppo, atau Iwan Simatupang, sebab kemampuan awam saya terbatas, Novel ini memenangkan penghargaan Karya Sastra Terbaik Tahun 2014 dari Lembaga Bahasa Jogyakarta. Sebuah prestasi yang patut diacungi jempol. Dahlia Rasyad, penulis muda yang masih terus akan berkarya dan mengembangkan karyanya. Ini terkuat di sesi akhir ketika moderator diganti secara spontan oleh salah seorang anak muda berkaos hitam yang sekaligus menjadi panitia acara, Dahlia diberi kesempatan untuk bicara bagaimana dia mulai menulis, bagaimana perjalanan Novel Perempuan Yang Memetik Mawar.

Satu hal yang menyentuh hati saya adalah, Dahlia mampu menunjukkan prestasi dan semangatnya dan masih mengaku seorang Pembelajar. Bagaimana Dahlia bercerita bahwa perlu keyakinan teguh untuk esksis di dunia kepenulisan, terlebih sastra yang minim peminat. Karenanya Dahlia menghimbau agar Dunia media cetak yang memiliki kolom sastra lebih menghargai karya penulis. Jika Kompas sanggup membayar 1,5 juta per cerpen, saya harap koran lokal di Sumatera Selatan bisa membayar 2 jutalah ujar Dahlia dan gerrrr ruangan riuh disambut tepuk tangan hadirin.

Begitulah ulasan saya tentang Perempuan Yang Memetik Mawar. Saya tidak bilang novel ini bagus atau tidak bagus. Sebab bagus atau tidak itu tergantung selera dan tergantung persepsi dan kemampuan pembaca. Buat saya, kualitas karya itu bagus atau tidak bukan karena halamannya banyak, misal karena 400 halaman itu susah dibuat, atau karena mengangkat isu perempuan atau lokalitas. Bagus itu sebab ia bagus. Untuk saya sebut bagus menurut saya cerita harus mengalir, cerita perbab atau per kepingan harus kawin, istilah anak muda sekarang ngeblend dan ada plot yang menyatukan.  Haiyah, omong apa ini. Jelas ini karena kemampuan saya memahami terbatas. Ketika ada lembaga yang memberi pengahargaan sebagai Karya Terbaik, ini bukti bahwa novel ini memang bagus karena sudah ada pengakuan. Terakhir, Novel ini layak anda miliki dan anda baca.

Saya tutup tulisan ini dengan sedikit prolog Novel Perempuan Yang Memetik Mawar,
Dunia ini tidaklah nyata. Apa yang kita alami tidak dengan sesungguhnya kita alami. Semua yang ada di dunia ini, yang terlihat oleh mata, teraba oleh jemari, yang terpikir oleh akal, dan semua sedih bahagia yang kita rasakan, hanyalah sebatas mimpi. Maka jangan kau ratapi atau kau sesali jika saja kenyataan tak pernah berjalan sesuai keinginan.

Salam hangat. Salam Perempuan Yang Memetik Mawar. 

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...