Search This Blog

Saturday, May 29, 2021

Dapur Sebagai Tempat Paling Bebas dan Ekspresif, Berkreasilah, Jangan Ragu


Source: foodandwine.com

Sering ragu dengan kemampuan memasakmu? sering? Sebaiknya jangan. Percaya pada ekperimen rasa dan feeling memasakmu. Saya gak pernah ragu dengan kemampuan memasak saya, absolutely. Kalau ada yang meragukan, ya itu masalahnya dia.

Kok saya sePede itu ? Pede dong. Sebab syarat utama untuk mendapatkan hasil masakan yang baik adalah Pede. Percaya pada indramu. Percaya pada kemampuanmu, percaya pada pengetahuanmu. Bahkan harus percaya pada intuisimu.

Selebihnya adalah soal rasa. Rasa yang relatif. Sebab saya masak untuk diri sendiri dan keluarga saya, ya saya nyaman-nyaman saja. Jikapun ada tamu dan keluarga sedang menginap, pasti akan saya masakkan dengan cara saya memasak. Paling saya tanya, sukanya apa? ada alergi dengan bahan apa? Itu saja. Sisanya, saya biarkan felling memasak saya dituntun oleh bahan yang ada di dapur, keuangan dan mood saya. Sudah syukur saya jamu, ihiks.

Sejujurnya...aslinya memang saya suka memasak. Sejak kecil bahkan. Kebetulan ibu saya sangat mendukung anak gadisnya memasak. Dulu ibu saya punya warung manisan yang menjual sembako dan sayur-yuran serta bahan rumah tangga lain.

Beliau akan senang sekali kalau saya mencoba memasak ini, itu, masak apapun. Dengan cepat beliau akan menyediakan apapun bahan yang saya butuhkan. Saya akan masak mempraktekkan resep yang saya dapat dari ibu, teman, dari bibi dan uwak saya. Bahkan resep pelajaran PKK ketika SMP. Bangganya, ibu saya sesekali akan memuji saya.

Seiring waktu, ketika SMA tau-tau body saya agak ndut, dan saya mulai jatuh cinta, pelan-pelan saya mulai meninggalkan hoby memasak saya. Terlebih ketika masa saya harus meraih prestasi sekolah. Saat ulangan, ujian smester tiba, ibu saya akan membebaskan saya dari pembagian tugas di rumah. Saya tidak mencuci piring, bahkan tidak memasak. Hanya disuruh belajar dan belajar. Kalau saya pikir-pikir, betapa hebatnya beliau ya.

Ketika masa kuliah, saya masih melanjutkan memasak sebab saya merantau dan indekost. Musti hemat toh, body agak ndut lagi, aih. Lalu masuk dunia kerja, tinggal di rumah dinas berdua dengan teman dimana kami punya si mba yang membantu mengurus rumah membuat saya tidak lagi memasak. Dunia kerja seperti menelan saya dan membuat saya melupakan dapur. 

Saya baru memasak lagi ketika menikah. Hanya, sebab latar belakang berbeda membuat saya tidak bebas berekpresi di dapur. Hehe, selera yang berbeda bahkan cara penggunaan bumbu yang berbeda membuat era memasak saya pada masa itu kurang ekspresif bagi saya. 

Hidup yang misterius membuat saya dan suami berpisah di jalan masing-masing hingga kami sama-sama menemukan pasangan baru. Singkatnya, pada era pernikahan yang ini, rasanya mood dan ekspesi memasak saya bangkit lagi. Saya seperti menemukan jati diri saya di dapur. Pede saya pada kemampuan memasak saya muncul lagi.

Jadi kalau ada orang yang mengatakan Dapur itu tempat paling aman, paling nyaman dan paling merdeka buat dia mengkepresikan diri, saya setuju sekali. Seperti yang dikatakan Jerelle Guy, seorang Narablog dan penulis buku terkenal  Black Girl Baking: Wholesome Recipes Inspired by a Soulful Upbringing.

Sebelumnya, saya lebih dulu menemukan sosok Jarelle di acara High On the Hog, How African-American Cuisine Transformed America, episode "Kebebasan" di Netflix.




"Aku tak suka aturan. Aku merasa itu membatasiku"
"Ketika aku masuk dapur, itulah satu-satunya saat aku harus menjadi diri sendiri"
"Aku menjadi bebas dan ekspresif"
"Dapur adalah satu-satunya tempat teraman buatku"
"Dapur memberiku kekuatan"...suara Jarelle bergetar saat mengatakan ini, saking terharunya doi.

Jarelle memasak dengan resep hasil kreasi yang dibuatnya dengan intuisi kekebasan yang ia punya. Juga dari sejarah yang ia pelajari terkait perjuangan di kaumnya. Juga perjuangan emasipasi yang ia geluti.

Kue hasil bakingnya begitu cantik dan menyiratkan kebebasan. Ada semburat warna merah gelap pada Red Velvet Four Layer cake yang dibuat Jarelle. Warna yang dia dapat dengan penambahan bit dan sirup maple. Sebab bagi Jarelle warna tersebut adalah warna yang akrab dengan warna perjuangan kaum kulit hitam sejak zaman perbudakan.
Source : netflix
Terlepas perjuangan saya dan Jarelle yang tidak sama dan tentu saja jauh berbeda, saya sepakat bahwa memasak itu adalah soal kebebasan berekspresi. Setiap orang boleh memasak apapun dengan caranya. Soal pengembangan, tinggal bagaimana orang tersebut belajar sejarah, seni dan budaya terkait kuliner yang dia suka.  

Saya, sebab saya memang suka memasak, saya gemar membaca, saya pede dengan intuisi saya, saya punya basic Ilmu Teknologi Pangan juga Ilmu Lingkungan, rasanya itu klop dan baik-baik saja. Bahkan sangat menunjang kemampuan memasak saya yang dibesarkan dengan budaya makan dan masak aneka kuliner lokal tempat saya dibesarkan. Kata saya sih.

Begitulah. Memasak itu soal kebebasan dan ekspresi, jangan ragu masak di dapur, bebaskan dirimu. Salam.

Mau liat IG Jarelle Guy, DISINI
Mau liat Cookpad saya DISINI
 

Sunday, February 21, 2021

Ketika Kita Sibuk Berkutat Dengan "Nissa Sabyan" dan Gosip Lain, Perempuan Baniwa Membangun Desa Dengan Berkutat Pada Cabe Rawit Mereka

He, kadang saya gak habis pikir, kenapa kita (Kita...? tepatnya saya) menghabiskan begitu banyak waktu melototi segala hal yang dijejalkan di timeline HP kita. Semua Platform sosial media berkejaran menjejali kita dengan hal remeh-temeh bin receh itu. Kita, eh saya, mau pula mengklik semua link berita tersebut.

Entah sekadar iseng. Entah karena jari gak sengaja kepencet sebab jari saya jempol semua (apahhhh?) Bukan, sebab aplikasi HP pun menanamkan semua link berita tersebut, dengan judul dan gambar sedemikian menarik serta membuat penasaran. 

Padahal.... kita bisa abaikan saja, kalau kita mau. Sejujurnya sejak lama saya mulai abaikan semua berita gosip dan rumour macam itu. Hanya, kadang demi kekompakan obrolan di WAG saya masih ikut membahas. Alasannya sedikit memberi komentar netral dan fair dari berbagai persfektif, haiyah.

Pada saat yang sama, di sela waktu weekend saya yang panjang itu dan sebab saya mencoba mengurangi keluar rumah karena protokol COVID_19 ini, saya nonton aneka film, kadang baca buku dan tentu saja masak. Masak apa saja yang saya suka.

Terkait nonton film tadi, saya tonton dari salah satu aplikasi penyedia film dll, yaitu Netflix. Sesungguhnya kadang bosan juga nonton film. Apalagi kalau dalam seminggu film independen dan film drama yang saya sukai belum ganti daftarnya, he. Saya akhirnya terjerat menonton acara "Chef's Table"

Banyak Chef yang ditampilkan, dari Asma Khan, Musa Dagdeviren, Alex Atala, Dominique Crenn dan lain sebagainya. Ketika sedang melihat Performa Chef Alex Atala, chef asal Brazil yang bangga menyajikan kuliner Brazil dan menggunakan bahan lokal. Saya melihat bagaimana sang chef keluar masuk kawasan Amazon mempelajari banyak hal. Hingga dia menyebut soal Perempuan Baniwa yang mengembangkan Cabe Rawit mereka. Disitulah saya terjerat membaca lebih jauh tentang Perempuan Baniwa dan Cabe Rawit mereka.


Perempuan Baniwa dan Cabe rawit Mereka

Yupz Orang Baniwa, Perempuan Baniwa.  Orang Baniwa tinggal di perbatasan Brazil dengan Kolumbia dan venezuela. Tepatnya di desa-desa yang terletak di Sungai Icana dan anak-anak sungai di Culairi dan di komunitas upper Rio Negro dan wilayah lain. Konon mereka adalah bagian dari Indigenous People Benua Amerika, Suku Indian.

Kenapa saya batasi Perempuan Baniwa, karena di Baniwa, perempuanlah yang lebih banyak tinggal di desa. Para lelaki konon ke kota menjadi pekerja tambang dan lain sebagainya. Cabe dan komunitas Indian sudah lama terjalin erat. Tentang hal ini mungkin kita perlu membaca di beberapa jurnal penelitian.

Orang Baniwa, Perempuan Baniwa begitu gencar muncul dan dipromosikan karena menjadi bagian dari gerakan pertanian berkelanjutan juga gerakan adat di wilayah tersebut. Tentu saja pengembangan Cabe Rawit mereka yang disebut Baniwa Jiquitaia Chili Pepper









Ada sekitar 78 varietas cabe rawit yang ditanam dan dikelola secara eksklusif oleh perempuan Baniwa. Ada yang bentuknya lonjong, bulat, agak oval dan lain sebagainya. Ya hampir sama dengan Cabe rawit yang ada di sekitar kita (saya di Palembang kenalnya cabe burung, cabe cungak, cabe rawit setan dsb). Tetapi setau saya Cabe Rawit memang berasal dari Amerika Tengah.

Cabe tersebut tak selesai hanya ditanam, dipanen lalu dipasarkan. Sebagian besar justru diolah menjadi beberapa sambal dan jenis kuliner khas Baniwa. Antara lain, Quinhapira (Cabe Rawit ditambah ikan) dan kuliner lain. Ya cabe rawit tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sekadar masakan, dimakan lalu selesai. Cabe Jiquitaia Pepper menjadi bagian dan ritual dan budaya mereka. 

Cabe rawit itu mereka percaya juga sebagai obat bagi kesehatan dan kemurnian jiwa mereka, wow.







Mereka gencar mempromosikannya. Tak main-main, dengan tagline "Baniwa Jiquitaia Pepper for Body and Soul"


Pada acara Chef's Table dengan bintang Chef Ales Atala itu saya mendengar bahwa di Baniwa ketika seorang gadis menikah maka ibunya akan memberikan hadiah perkawinan yang unik. Bukan lemari, atau tempat tidur atau rumah tapi bibit Cabe Rawit Baniwa yaitu Jiquitaia Pepper tadi. Sebuah hadiah dengan pesan moral yang mendalam saya kira. Pesan agar generasi berikutnya tetap menanam dan mengembangkan Cabe Rawit mereka itu. 

Apakah Sibuk di Pusaran Timeline Kita Begitu Penting ?

Jawabannya tergantung kondisi kita masing-masing. Jika kita penulis, pembuat konten, penggiat sosial media, mungkin penting juga supaya dapat bahan. Tetapi jika kita melihat hal remeh-temeh di timeline kita sekadar sibuk dan menghabiskan waktu, memuaskan esmosi jiwa tanpa manfaat yang betul-betul setara dengan waktu kita yang terbuang? mungkin perlu kita kurangi. Menurut saya. 

Apapun itu, semua berpulang kepada diri kita masing-masing. Bahwa gosip itu asyik, semua kita tau. Bahwa kita masih manusia biasa yang sesekali ngobrolin hal yang lagi trend itupun dimaklumi. Toh kita bukan malaikat. Daripada jaim tapi diam-diam kerjanya berkutat pada apa saja gosip sedang trend, hehe. Semua ada hitung-hitungannya. Semua ada baik dan buruknya, silahkan kita pilih porsi sesuai kebutuhan dan kemanfaatan bagi kita. 

Jangan sampai masakan jadi gosong karena sibuk melototi berita artis. Jangan sampai kerjaan gak selesai, atau selesai tapi asal-asalan karena waktu kita tersita untuk berita remeh dan receh tadi. 

Semoga ada manfaatnya. Salam.

Dapur Sebagai Tempat Paling Bebas dan Ekspresif, Berkreasilah, Jangan Ragu

Source: foodandwine.com Sering ragu dengan kemampuan memasakmu? sering? Sebaiknya jangan. Percaya pada ekperimen rasa dan feeling memasakmu....